Saturday, October 1, 2016

Sinopsis Film Maigret Sets A Trap (2016)





Bagi mereka yang sudah pernah membaca kisah-kisah detektif Jules Maigret atau bahkan pernah menonton versi adaptasi sebelumnya tentunya akan sangat senang dengan kehadiran serial televisi terbarunya yang dibintangi oleh Rowan Atkinson tersebut. Setelah dirilis beberapa waktu lalu, kisah “Maigret Sets a Trap” yang diangkat dari novel berjudul serupa, para penggemar detektif asal Perancis rekaan George Simenon tersebut.

“Maigret Sets a Trap” diangkat dari novel pendek karya Georges Simenon dengan judul asli “Maigret tend un piège” dan dirilis pada 1955 silam. Novel ini berungkali diadaptasi oleh serial televisi. Yang terakhir adalah serial yang diperankan oleh Michael Gambon pada 1992 silam serta serial televisi Perancis dengan aktor Bruno Cremer yang dirilis antara 1995 sampai 2005. Kali ini, Rowan Atkinson mencoba memberikan warna baru dari kisah yang menjadi cerita Maigret terfavorit pilihan para pecinta genre fiksi detektif tersebut.


Plot

Eksposisinya dimulai dengan kehebohan pemberitaan mengenai pembunuhan berantai di kawasan Montmartre, sisi utara kota Paris, Perancis. Pembunuh berantai tersebut mengincar para wanita dari berbagai kalangan profesi. Tidak sampai disitu, pemberitaan media juga terkesan mengkritik kinerja kepolisian dibawah pimpinan Maigret yang dianggap lamban karena sudah jatuh korban keempat. Belum lagi desakan dari para petinggi kota yang menginginkan sang pelaku tertangkap.

Di tengah mencoba memahami kasus tersebut, kota kembali digemparkan dengan jatuhnya korban kelima, seorang ibu rumah tangga. Maigret pun mengunjungi keluarga korban untuk memberitahukan perihal targedi tersebut. Hatinya pun tersentuh melihat korban meninggalkan suami dan empat anak yang masih kecil.

Dengan jatuhnya korban kelima, Maigret pun kembali didesak. Walaupun sebenarnya ia sudah mempelajari sang pelaku. Ia menyadari bahwa ada kesamaan dari semua korban yang diincar sang pelaku. Semua wanita yang diincarnya adalah wanita usia menjelang 30 sampai akhir 40 dengan rambut berwarna gelap kecoklatan. Selain itu, Maigret juga menyadari bahwa seorang pembunuh berantai rata-rata memiliki “pride” yang tinggi. Hal itulah yang akhirnya dimanfaatkan Maigret untuk memancing sang pelaku dengan memanfaatkan pemberitaan media.

Rencananya memang tak mulus, apalagi ditentang oleh para petinggi kota. Bahkan Maigret sempat diusulkan untuk digantikan oleh Inspektur polisi lain dan mengambil poisisnya dalam menangani kasus ini. Namun berkat sobekan jas yang sempat tertinggal dari salah satu tempat kejadian, pelakunya pun berhasil dilacak.
Masalah belum sampai disitu, karena Maigret tidak mempunyai bukti yang cukup kuat untuk bisa membongkar alibi sang pelaku. Ditambah terjadi pembunuhan berikutnya di saat sang tersangka yang diduga pelaku sedang dalam pengamanan polisi. Semua semakin runyam. Namun hanya Maigret yang bisa membereskan semuanya dengan cara yang tenang dan sangat emosional.


Review

Saya sangat bersyukur bisa menyaksikan ‘Maigret Sets a Trap’ versi sebelumnya yang diperankan oleh Michael Gambon, sehingga saya bisa sedikit melihat perkembangan cerita dari versi terbaru ini. Pada dasarnya semuanya masih terlihat sama, namun lebih banyak dimensi dalam versi Rowan Atkinson. Saya sangat terbawa sekali dengan alur ceritanya di versi terbaru ini. Sehingga saya tidak perlu lagi membahas tentang alur dari cerita dengan ending yang cukup emosional tersebut. Karena yang akan paling banyak saya sorot adalah karakter utama dalam cerita ini.

Saya sangat setuju dengan review dari dailymail.co.uk yang mengatakan bahwa Maigret memiliki metode yang berbeda dengan beberapa detektif kenamaan di dunia fiksi. Bila yang biasa membaca kisah Sherlock Holmes mungkin sangat terbiasa dengan metode bagaimana ia menggunakan kejeniusannya dalam mengupas semua petunjuk yang tersisa, atau Hercule Poirot yang merunut semua detail persoalan sampai akar-akarnya. Hal itu sangat berbeda halnya dengan cara Jules Maigret yang terlatih secara emosional dengan metode mengupas apa yang ada di otak sang pelaku serta membuat jebakan emosi untuk mengeluarkan sisi manusia yang selama ini tidak ditunjukkan di tengah masyarakat.

Lihat saja bagaimana ia memanfaatkan sisi “pride’ dari seorang pembunuh. Seperti yang ia pelajari dari rekannya yang seorang psikiater, bahwa seorang pembunuh berseri biasanya memiliki kebangaan atas “hasil karyanya.” Nah, hal itulah yang dimanfaatkan oleh Maigret. Seperti yang ia katakan, bagaimana bila ada orang lain yang justru mendapat kredit atas pembunuhan tersebut dan bukannya sang pelaku sesungguhnya.

Maka rencana pertama pun dijalankan. Ia mengatur ada seorang yang berpura-pura digiring ke kantor polisi sambil melewati kerumunan wartawan. Hal itulah membuat media menulis berita bahwa pembunuh berseri tersebut telah ditangkap. Pemberitaan dari media itulah yang nantinya akan membuat pembunuh asli keluar dari persembunyian. Disinilah Maigret menyiapkan rencana kedua dengan menempatkan beberapa polisi wanita sebagai umpannya.

Hal lain yang kuat dari Maigret adalah kesabarannya, khususnya saat menginterogasi korban. Sepanjang saya menonton cerita polisi yang mengandung interogasi, baru kali ini saya menemui model interogasi macam Maigret. Tidak ada “good cop, bad cop’ dalam ceritanya. Yang dilakukan Maigret saat duduk  bersama tersangka saat melakukan interogasi adalah diam. Menutup rapat bibirnya sepanjang yang ia perlukan. Hal ini tentunya membuat gelisah orang yang dinterogasi. Di saat sang tersangka sudah mulai terlihat gelisah, Maigret pun baru mulai melontarkan pelurunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang justru bukan pertanyaan resmi seorang penyidik kepada orang yang diperiksanya. Pertanyaannya terlihat biasa namun menjurus ke sesuatu, seperti tentang hungan sang pelaku dengan keluarganya yang kemudian berubah menjadi sesuatu yang cukup menusuk bagi pelaku..

Melihat hal ini, saya menyimpulkan bahwa apa yang pernah saya dengar tentang kesabaran sang Maigret pun terbukti adanya. Lupakan sifat Sherlock Holmes yang moody dan suka show off akan deduksinya kepada sobatnya. Lupakan pula tingkah jenaka Hercule Poirot, metode keteraturannya dan keangkuhannya. Inspektur Jules Maigret adalah tipikal polisi yang sedikit bicara lebih banyak bertindak, diam-diam menghanyutkan, sabar, serta tidak menunjukkan emosi yang meluap-luap, tapi tetap memiliki jiwa kepimpinan sehingga disegani. Sifat yang menurut beberapa orang harusnya diikuti oleh polisi lainnya.

Sinopsis Film The Boy Next Door (2015)







Genre : Thiller
Sutradara : Rob Cohen
Produksi : Universal Pictures
Produser : Jennifer LoPez
Pemain Film :
Jennifer Lopez
Ryan Guzman
John Corbett
Kristih Chenoweth
Ian Nelson
Negara : Amerika
Film Release : Februari 2015
Durasi : 91 Menit


Sepertinya tak ada yang mampu menolak godaan seorang laki-laki muda, tampan, tubuh menawan, serta pandai memperbaiki apapun, termasuk hati seorang istri yang rapuh mendapati suaminya berselingkuh. Guru Sastra Inggris klasik,Claire Petterson tidak berkutik saat Noah, cucu tetangga muncul memberikan bantuan untuk mendorong rolling door garasinya yang rusak.

Pesona Noah menarik membuat Claire tak berdaya. Beberapa kali Claire kedapatan tengah memandang kagum kepada wajah dan otot-otot tubuh Noah. Rupanya Noah pun sama kagumnya terhadap Claire. Bahkan Noah cenderung terobsesi dengan Claire. Segalanya ia lakukan untuk bisa mendapatkan Claire. Pertahanan Claire yang sudah sembilan bulan pisah rumah dengan sang suami, akhirnya runtuh.

Buaian Noah tak berpengaruh lama. Claire segera menyadari bahwa yang ia lakukan bersama Noah salah. Di sisi lain hubungan Claire dengan Garret, sang suami mulai membaik. Claire akhirnta lebih memilih Garret yang mapan, yang mengendarai mobil mewah Dodge, daripada Noah muda yang hanya bermodalkan wajah tampan dan bentuk tubuh yang sempurna.

Penolakan Claire ditanggapi dengan amarah oleh Noah. Dia tidak terima dan menuduh Claire menjaga jarak dengan dirinya. Di sinilah mulai terungkap sosok Noah yang sebenarnya. Ia tidak lebih dari seorang psikopat, yang rela melakukan apapun untuk mendapatkan Claire.

Ancaman demi ancaman dilayangkan kepada Claire. Mulai dari tulisan “Saya meniduri Claire Peterson” di dinding kamar mandi, hingga menyebarkan foto-foto Claire saat berhubungan dengan Noah. Noah bahkan nekat membunuh siapapun yang menghalangi jalannya untuk bisa bersama dengan Claire.

Kisah di atas merupakan cerita di film The Boy Next Door. Film ini dibintangi oleh penyanyi, Jennifer Lopez dan Ryan Guzman. Lopez berperan sebagai Claire, sementara Guzman dipercaya untuk memainkan Noah, si psikopat ganteng.

Sinopsis Film The Best Offer (2013)







Sutradara : Giuseppe Tornatore
Penulis Naskah : Giuseppe Tornatore
Aktor dan Aktris : Geoffrey Rush, Jim Sturgess, Sylvia Hoeks

Film ini bercerita tentang kehidupan seorang pelelang yang selalu curang ketika melakukan pelelangan, Ia mendapatkan job dari seseorang yang ingin menggunakan jasanya untuk menjual barang-barang antik warisan keluarga. Ketika menyelesaikan daftar barang pelanggannya, dia menemukan hal-hal aneh, sesuatu yang membangunkan semangat hidupnya kembali dan membawa cara berpikir yang berbeda, serta membawa perubahan besar bagi dirinya.


Film ini menceritakan seorang pemandu lelang bernama Virgil Oldman, yang hidup sendiri dan maniak akan kebersihan, namun memainkan sebuah konspirasi untuk menguasai barang-barang tertentu yang ia sukai dengan cara memanipulasi proses pelelangan. Awalnya, semua berjalan lancar sampai menjelang akhir masa kerjanya, hingga ia menerima permintaan pelelangan dari seorang perempuan yang memiliki kepribadian aneh, yang akhirnya merubah hidupnya.

Film yang menitik beratkan pada plot yang lumayan emosional dan twist ending yang mencengangkan. Saya akui alur ceritanya tidak membosankan, membuat kita menduga-duga siapa sebenarnya pemilik dari semua barang pelelangan yang terakhir itu, dan apa tujuannya. Cerita berjalan apik, hingga terkesan tidak meninggalkan satu hole plot sekali pun, namun sedikit kekurangannya justru saya rasakan di akhir film yang agak sedikit memaksa, dan banyak sekali celah.

Sinopsis Film I. T. (2016)

Film dengan genre crime, drama, mystery oleh sutradara John Moore, penulis skenario Daniel Kay dan William Wisher Jr., diproduksi oleh Fastnet Films, 22h22, Friendly Films (II), mengambil lokasi syuting dibeberapa daerah di Irlandia dan Prancis. 

Film ini dibintangi oleh Pierce Brosnan selaku pemain utama beserta Anna Friel, Stefanie Scott, James Frecheville dan lainnya. RLJ telah membelinya untuk distribusi di beberapa negara yang dijadwalkan akan tayang bulan September mendatang.

Film ini akan berfokus pada seorang pria bernama Mike Ryan (Brosnan) bersama istrinya yang cantik, seorang anak perempuannya yang tak kalah cantik, dan sebuah rumah berkarya seni dan berteknologi tinggi. Sebuah keluarga yang sempurna dengan kekayaan yang juga luar biasa -- namun suatu ketika dia menemukan dirinya sedang terjebak dalam sebuah permainan mematikan, sebuah game seperti kucing dan tikus ketika konsultan teknologi yang dipekerjakannya (diperankan oleh James Frecheville) mulai menggunakan kemampuan teknologi yang dimilikinya untuk mengintai anak perempuan Ryan, membahayakan istrinya, membahayakan bisnisnya bahkan hidupnya.

Film Summary

John Moore
September 22, 2016
- Minutes
Crime,
Drama,
Mystery
n/a
Daniel Kay,
William Wishes Jr.
Fastnet Films,
22h22,
Friendly Films (II)
Anna Friel,
Pierce Brosnan,
Stefanie Scott,
Michael Nyqvist,
James Frecheville,
Jason Barry
-
I.T.
LANGUAGE
English
BUDGET
€ 11.250.379
COUNTRY
Ireland,
France
FILM LOCATION
Dublin,
Ireland

Friday, September 30, 2016

Sinopsis Film Incendies (2010)






Sutradara : Denis Villeneuve 
Produser : Luc Dery, Kim McCraw  
Pemeran : Lubna Azabal, Melissa Desormeaux Poulin, Maxim Gaudette, Remy Girard, Allen Altman 
Musik: Gregoire Hetzel 
Sinematografi : Andre Turpin   
Penyunting : Monique Dartonne  
Studio :  Micro Scope  
Distributor : E1 Entertainment, Sony Pictures Classics 
Tanggal Rilis : 04 September 2010 
 Durasi : 130 menit 
Negara : Kanada  
Bahasa : Perancis

Saya selalu menyukai film yang menggunakan setting nyata dari sebuah peristiwa bersejarah, karena dari situ saya mendapat nilai tambah untuk mempelajarinya lebih lanjut. Film Kanada-Perancis garapan sutradara Denis Villeneuve ini sedikit mengingatkan saya pada film Argentina, The Secret in Their Eyes (2009). Bukan karena alur ceritanya memang, melainkan karena keduanya sama-sama menggunakan setting sebuah konflik/krisis yang terjadi di suatu daerah dan keduanya pun juga mengedepankan aspek misteri yang kuat. Incendies diangkat dari teatrikal drama karya Wajdi Mouawad pada tahun 2003, dan pada tahun 2011 berhasil masuk nominasi di Academy Awards untuk Film Berbahasa Asing Terbaik.   


Nawal Marwan (Lubna Azabal) melalui notarisnya, Jean Lebel (Réemy Girard) menyampaikan permintaan terakhirnya pada anak kembarnya, Jeanne (Mélisa Désormeaus-Poulin) dan Simon (Maxim Gaudette) agar menemukan ayah dan saudaranya yang lain di negara tempat kelahirannya. Awalnya, Jeanne dan Simon meyakini bahwa ia tidak punya saudara lagi dan yang ia tahu bahwa ayahnya juga sudah meninggal selama perang di kota Daresh. Karena Simon enggan, akhirnya Jeanne memutuskan sendiri datang ke negara di daerah Timur Tengah tempat lahir ibunya, untuk mencari lokasi tempat ayahnya berada. Sedangkan Simon mendapatkan bagian untuk mencari keberadaan saudara mereka. Chapter pertama ini diberi judul Les Jumeaux atau yang berarti Si Kembar.
Chapter kedua berjudul “Nawal”, menceritakan masa lalu Nawal saat memiliki hubungan terlarang dengan pemuda muslim bernama Wahab (Hamed Najem). Namun naas, Wahab yang seorang pengungsi itu akhirnya tewas dibunuh oleh saudara Nawal. Nawal yang dianggap membawa kesialan pada keluarga, akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki dengan dibantu oleh neneknya. Bayi laki-laki itu kemudian dititipkan pada panti asuhan di Kfar Kout. Nawal lalu pindah ke kota bernama Daresh untuk melanjutkan studi Bahasa Perancis. Ia juga aktif dalam menentang partai Nasionalis di saat perang sipil antara kubu Muslim dan Kristen pecah. Setelah bertahun-tahun berlalu, Nawal kembali untuk menjemput anaknya. Tapi apa yang terjadi, panti asuhan tempat anaknya berada telah dihancurkan oleh kaum milisi.
Adegan pertama diawali dengan seorang anak laki-laki yang dicukur rambutnya, menatap dengan matanya yang seolah menyalakan api penuh dendam dan kebencian yang mendalam. Anak inilah yang akan menjadi kunci dari misteri yang tersebar dalam film ini. Sejak Jeanne mempertanyakan mengenai kenyataan terkait ayah dan saudaranya yang berlawanan dengan permintaan terakhir ibunya, saya sudah merasa bahwa ada unsur misteri yang siap untuk diikuti selama film berlangsung. Misteri berupa teka-teki keberadaan sekaligus kenyataan mengenai ayah si kembar itu, mengantarkan Jeanne ke sebuah negara ‘antah berantah’ di Timur Tengah, karena sama sekali negara tersebut tidak pernah dijelaskan namanya di sepanjang film. Dengan bersumber referensi yang saya cari, banyak yang mengaitkan negara yang menjadi setting dari Incendies ini adalah Lebanon. Di negara tersebut, memang pernah pecah perang sipil antara kubu Muslim dengan Kristen antara tahun 1975-1990. Semua nama kota yang digunakan dalam film inipun juga murni fiksi.   
Selain dibalut dengan unsur misteri yang menjadikan daya tariknya, Incendies juga kaya dengan karakternya yang kuat. Jeanne dan Simon, si kembar laki-laki dan perempuan ini memiliki watak yang cukup berseberangan. Jeanne terlihat lebih dewasa dan tenang dalam menangani setiap masalah. Sedangkan Simon lebih mudah naik darah dan selalu pesimis dalam masalah yang dihadapi. Masa lalu mereka berdua memang tidak dijelaskan secara rinci, tapi saya berasumsi bahwa mereka awalnya tidaklah dekat satu sama lain. Tapi, dengan wasiat berupa ‘petualangan’ pencarian dari ibunya ini, mereka mulai nampak akrab dan menunjukkan perasaan saling membutuhkan satu sama lain. Dari jajaran cast, saya menyukai pemilihan Mélisa Désormeaus-Poulin dan Maxim Gaudette yang keduanya memiliki kemiripan wajah untuk berperan sebagai saudara kembar.
Karakter Nawal sendiri digambarkan sebagai seorang wanita yang kuat, tegar, dan berpendirian ‘kokoh’. Dengan beraninya, ia membunuh pimpinan Partai Nasionalis yang radikal meski mereka memiliki kesamaan agama, karena apa yang diinginkan oleh Nawal tidak lain adalah perdamaian bagi kedua belah pihak, antara Muslim dengan Kristen. Tapi sering pula Nawal dimunculkan dalam keadaan diam dan tertegun cukup lama setiap ia tertimpa sebuah hal yang membuatnya begitu sedih dan terluka. Salah satunya adalah ketika adegan bus yang berisi warga Muslim yang ditembali milisi Kristen, dan Nawal tidak berhasil menyelamatkan seorang gadis kecil (adegan ini merupakan adegan paling menyayat hati dan membuat saya speechless). Segala pahit getir rasanya tidak pernah lepas dari hidupnya, dan itulah yang mengasahnya menjadi pribadi yang tangguh. Karakter Nawal Marwan ini berhasil mengambil hati saya dan benar-benar membuat terkesan.
Apa yang membuat saya begitu menyukai Incendies selain kehadiran misterinya yang seru untuk diikuti adalah penggunaan setting berupa konflik nyata dalam sejarah. Dalam hal ini adalah perang sipil akibat gesekan agama yang berbeda, meskipun tidak ditampilkan secara eksplisit. Adegan chaostic juga berhasil dibangun dengan cukup baik seperti pengungsi yang berlarian ke sana kemari dan tank-tank yang siap menyerbu, semakin menambah suasana yang mencekam di tengah-tengah peperangan. Cerita semakin seru dan mendebarkan ketika proses pencarian tersebut sempat melibatkan salah satu pemimpin milisi tertinggi. Tapi justru dari sanalah jawaban akan segala misteri mengenai ayah dan saudara si kembar berhasil didapatkan. Incendies ditutup dengan twist ending yang membuat breathtaking dan cukup membuat pikiran blowing. Denis Villeneuve telah berhasil menghadirkan sebuah sajian luar biasa dengan tone yang lambat di awal tapi meledak di akhir. Incendies berasal dari Bahasa Perancis yang memiliki arti “api”, api yang berkobar selama perang sipil, api kemarahan Nawal pada kaum Nasionalis, serta api yang membakar emosi penonton ketika menyaksikannya.      



 

Saturday, September 10, 2016

Sinopsis Film Identity (2003)


Ceritanya dimulai dari suatu rumah sakit jiwa yang mengadakan pengadilan dalam kondisi khusus buat pembunuh psycho yang mengidap multiple personality atau kepribadian ganda bernama Malcolm Rivers (Pruitt Taylor Vince). Setelah itu, cerita beralih ke sebuah motel di deket Las Vegas dimana satu keluarga terjebak dalam badai dan harus stay di motel itu. Keluarga yang terdiri dari ayah bernama George York, ibu yang bernama Alice York dan anak laki – laki bernama Timmy itu mengalami kecelakaan kecil yang menyebabkan Alice terluka parah. Di karenakan ditabrak oleh sopir limusin.


kemudian mereka ditolong dan di bawa oleh seorang sopir limusin, Edward (John Cusack) yang sedang mengantar seorang aktris, Caroline. Dan mereka sampai di sebuah motel yang tidak jauh dari tempat kejadian tersebut. Larry, si pemilik hotel kemudian menyarankan agar Alice dibawa ke rumah sakit terdekat yang jaraknya sekitar 30 mil dari motel. Akhirnya si sopir limusin yang bernama Edward, pergi ke RS tersebut. Sayangnya di tengah jalan ia terjebak banjir lalu kemudian bertemu dengan seorang PSK bernama Paris (Amanda Peet) yang ingin berhenti dari pekerjaannya dan ia berniat untuk membuka perkebunan jeruk dan di tengah perjalanan edward dan paris bertemu pasangan bernama Ginny Isiana (Clea DuVall) dan Lou Isiana (William Lee Scott) di dalam mobil yang juga terjebak banjir. Edward dan paris kemudian menumpang bersama mereka untuk kembali ke motel.


Kemudian disusul seorang polisi bernama Rhodes (Ray Liotta) bersama napi pindahan yang kehabisan bensin. Mereka semua pun kemudian menginap di hotel tersebut. Tak lama kemudian, terjadi pembunuhan di hotel tersebut. Pertama si aktris yang kepalanya ditemukan di mesin cuci motel, disusul Lou, suami Ginny. Awalnya dicurigai si pembunuh adalah napi yang dibawa oleh Rhodes. Tapi kemudian ternyata si napi juga dibunuh dengan tongkat bisbol.


Anehnya di setiap penemuan mayat ditemukan kunci kamar motel dengan urutan nomor 10 untuk si aktris, 9 untuk Lou dan 8 untuk si napi. Tak disangka, ditemukan mayat dalam lemari pendingin yang ternyata pemilik motel sebelumnya. Beberapa waktu yang lalu, Larry menemukan si pria sudah mati ketika datang ke motel, namun ia bingung harus melakukan apa sehingga mayatnya disimpan dalam lemari pendingin agar menunggu keluarganya datang tetapi tak pernah ada yang datang melainkan tamu – tamu yang bermaksud menyewa kamar. Jadilah Larry mengambil alih motel tersebut.
Sayangnya tak ada yang percaya dengan cerita Larry sehingga ia dituduh sebagai pembunuh orang – orang tersebut. Larry yang panik kemudian kabur dengan mobil, namun tidak sampai ia keluar dari motel, ia menabrak George dan di dalam kantong George di temukan kunci bernomor 7. Larry akhirnya diamankan dan kemudian Alice yang terluka parah meninggal dan di temukan nomor 6. Ginny yang kemudian mengambil peran sebagai pelindung bagi Timmy kemudian kabur membawa Timmy. Namun mobil yang mereka tumpangi meledak sebelum keluar dari motel. Setelah api di padamkan di temukan nomor 5.


Akhirnya orang – orang yang tersisa hanya tinggal Edward, Rhodes, Paris, dan Larry. Mereka menerka – nerka latar belakang dari pembunuhan ini. Ternyata ulang tahun mereka dan orang – orang yang dibunuh bertanggal sama, yaitu 10 Mei dan mereka memiliki nama depan atau nama belakang yang mirip nama Negara bagian seperti Edward 'Ed' Dakota - Samuel Rhodes - Paris Nevada - George York - Alice York - Timmy York - Larry Washington - Caroline Suzanne - Virginia "Ginny" Isiana - Lou Isiana - Robert Maine. Kecurigaan mulai timbul satu sama lain yang menyebabkan Larry terbunuh.


Tiba tiba scene berganti kembali ke pengadilan Malcolm Rivers, ternyata dalam diri Malcolm terdapat lebih dari 10 karakter berbeda yang ia karang sendiri dan saling membunuh dalam cerita di motel tersebut. Dokter yang menanganinya percaya bahwa tokoh Rhodes lah yang merupakan karakter pembunuh. Dengan kata lain, seluruh kejadian di motel merupakan rekayasa pikiran Malcolm Rivers yang diperintahkan untuk menghilangkan kepribadian pembunuh dalam dirinya. Dalam jalannya sidang seperti melihat seluruh kepribadian Malcolm yang saling membunuh, hal ini untuk membuktikan bahwa sebenarnya raga Malcolm tidak bersalah, tetapi pikiran – pikirannyalah yang berbahaya.


Cerita lalu kembali pada kejadian di motel, Larry dibunuh oleh Rhodes. Kemudian Edward dan Rhodes saling menembak hingga keduanya tewas. Hingga tersisa Paris yang akhirnya melanjutkan hidup membuka kebun jeruk atau sama saja seperti karakter Paris lah yang akhirnya dipertahankan Malcolm. Ternyata karakter pembunuh sebenarnya adalah Timothy atau Timmy anak dari George dan Caroline. Dialah yang membunuh orang – orang atau kepribadian – kepribadian Malcolm. Di akhir cerita, Paris yang sedang menggali tanah tiba – tiba menemukan kunci motel bernomor 1, kemudian tiba – tiba datang Timmy lalu membunuhnya sebagai wujud dari Malcolm yang mempertahankan karakter Timmy dalam dirinya.

Sunday, June 19, 2016

Sinopsis Film The Witch (2016)









Genre : Film Horor

Negara : Amerika Serikat

Bahasa : Inggris

Sutradara : Robert Eggers

Produksi : A24 Films, Rooks Nest Entertainment, Parts and Labor, RT Features

Durasi : 90 menit


Pemain :
Anya Taylor-Joy,
Ralph Ineson,
Kate Dickie,
Harvey Scrimshaw,
Ellie Grainger,
Lucas Dawson




Ringkasan film yang secara resmi dirilis oleh A24 akan membawa para penonton melihat bagaimana kira-kira kota New England pada tahun 1960, dimana seorang petani bersama keluarganya terpaksa harus meninggalkan pertaniannya setelah sebuah perdebatan panjang dengan sebuah gereja lokal yang juga menjadikan mereka terasa terasing di kota mereka sendiri.


Tahun 1630an adalah sebuah zaman yang masih sangat kelam, tidak ketinggalan di Amerika. Saat itu, hanya wilayah tertentu yang telah dihuni oleh manusia, sementara disisi lain, alam dan kegelapan masih menguasai. Dan kegelapan itu yang harus dialami oleh sebuah keluarga yang sangat harmonis, keluarga Puritan.

Dia adalah William, orang yang sangat rohani, dekat dengan Tuhannya sebagai Kristen yang taat, namun terpaksa juga harus mengungsikan lima anak dan istrinya Catherine ke sebuah wilayah yang sangat jauh, sepi dan dilingkupi oleh hutan belantara, dan diyakini penuh dengan kengerian dan iblis tak dikenal. Ini adalah jalan satu-satunya yang masih dapat diyakini oleh pria itu untuk menyelamatkan diri dan keluarganya.

Namun keanehan dan horor sudah terjadi sejak awal, hewan peliharaan mulai menggila dan mati, hasil kebun gagal dan salah satu anaknya yang paling kecil mendadak lenyap dari pandangan ibunya, sementara anak yang lain dirasuki oleh roh setan.

Dalam sebuah perasaan paranoid dan curiga besar, keluarga itu mulai saling menyalahkan dari menuduh salah satu putri mereka berpraktek sihir namun dia menolaknya. Semakin situasi tambah gawat, keyakinan, iman dan kebersamaan mereka selaku pribadi dan keluarga mulai diuji dengan berat, sebuah ujian penderitaan yang takkan pernah terlupakan dalam keluarga William.


Sinopsis Film Psycho (1960)




Genre : Film Misteri

Negara : Amerika Serikat

Bahasa : Inggris

Sutradara : Alfred Hitchcock

Produksi : Paramount Pictures

Durasi : 109 menit


Pemain :
Anthony Perkins sebagai Norman Bates
Janet Leigh sebagai Marion Crane
Vera Miles sebagai Lila Crane
Martin Balsam sebagai Milton Arbogast
John Gavin sebagai Sam Loomis



Marion (Janet Leigh) adalah seorang karyawati suatu perusahaan, dia memiliki seorang kekasih, Sam Loomis (John Gavin)  namanya. Sam yang hanyalah seorang pekerja wiraswasta biasa harus mengeluarkan banyak uangnya untuk membayar hutang-hutang ayahnya yang sudah meninggal. Atas alasan itulah Sam tidak segera menikahi Marion.

Suatu hari Marion diberi kepercayaan untuk menyerahkan uang sebesar $40.000 ke bank. Dengan uang sebesar itu, Marion merasa itu adalah sebuah kesempatan yang sangat bagus untuk memulai hidup baru. Akhirnya dia pergi meninggalkan kota dengan membawa kabur uang $40.000 itu. Dalam perjalanan, karena lelah, Marion pun menginap di sebuah motel yang dikelola oleh seorang pria, Norman Bates (Anthony Perkins).

Sudah seminggu lamanya Lila Crane (Vera Miles) tidak mengetahui keberadaan sang adik, Marion  yang tanpa kabar apapun menghilang begitu saja setelah sebelumnya mencuri uang milik perusahaannya. Lila kemudian meminta Sam Loomis , kekasih Marion dibantu Milton Arbogast (Martin Balsam), detektif swasta yang disewa perusahaan tempat Marion bekerja untuk melacak dimana Marion dan uang yang dicurinya berada.

Penyelidikan yang dilakukan Arbogast mengantarnya ke sebuah motel kecil milik Norman Bates . Di tempat ini Arbogast mulai menyelidiki keberadaan Marion yang diyakininya pernah menginap di penginapan tersebut dengan mengorek informasi dari Norman yang ternyata selama ini hidup bersama ibunya. Namun disaat Arbogast ingin bertemu dengan ibu Norman tiba-tiba saja ia diserang oleh sesosok wanita misterius.

Lili yang gelisah menunggu kabar dari Arbogast kemudian mengajak Sam melakukan penyelidikan sendiri. Dengan menyamar sebagai pasangan suami istri mereka mendatangi Bates Motel tanpa menyadari apa yang akan mereka hadapi di tempat itu.


Bisa dibilang saya adalah orang yang beruntung karena dapat menyaksikan salah satu karya terbaik Alfred Hitchcock ini tanpa tercemar spoiler sedikitpun, bahkan usaha saya untuk dapat menahan diri agar tidak kelepasan menyaksikan versi remake-nya pun ternyata berbuah sangat manis. Tidak heran sebenarnya jika Pycho yang kisahnya diadaptasi dari novel tahun 1959 karya Robert Bloch berjudul sama ini mampu menjadi salah satu thriller psikologis terbaik sepanjang masa. Semuanya tidak lepas karena peran besar dari orang hebat dibelakangnya bernama Alfred Hitchcock, sang Master of Suspense yang sebelumnya di era 50an sukses dengan karya-karyanya seperti Dial M for Murder, Rear Window dan To Catch a Thief.

Ya, Psycho bisa dibilang adalah karya Hitchcock yang paling ambisus di jamannya, bahkan bayak orang yang menyebut bahwa film ini adalah thriller psikoanalisi pertama yang banyak mengispirasi film-film thriller pintar modern untuk tidak hanya menawarkan ketengangan semata namun juga mengajak penontonnya berpikir, menganalisis dan mencerna penggambaran tersembunyi dalam ceritanya yang kompleks. contohnya dalam film, kediaman Bates yang terdiri dari tiga lantai ternyata merupakan personifaksi dari 3 pikiran manusia, id, ego dan superego, serta simbolisme burung hiasan yang diawetkan sebagai metafora kematian. Bahkan sampai saat ini kisah yang ditampilkan Pycho mampu membuat penontonnya, khususnya yang belum mengetahui ceritanya sama sekali bakal terhenyak dengan twist mengejutkan di penghujung film, tidak ada yang menyangka bahwa kisah Pycho akan berakhir serperti itu, jenius!!!.


Banyak momen-momen menarik dan mengejutkan yang coba ditampilkan dalam film yang empat nominasi Academy Awards ini, semuanya ditampilkan dalam medium hitam putih dengan alasan untuk mengurangi tingkat kesadisan, walaupun alasan sebenarnya adalah untuk menghindari biaya produksi agar tidak terlalu mahal. Adegan-adegan seperti adegan perselingkuhan dan juga adegan yang menampilkan tokoh wanita memakai pakaian dalam terbilang adalah adegan yang cukup berani ditampilkan oleh Hitchcock pada saat itu. Siapa yang bisa melupakan shower murder scene yang fenomenal itu. Adegan yang hanya berdurasi 45 detik itu dibuat sedetail mungkin oleh Hitchcock dengan 70 sudut pengambilan gambar yang dilbuat selama 4 minggu plus dukungan scoring musik gesekan biola menyeramkan dari komposer Bernard Herrmann semakin semakin melengkapi atmofer kelam yang ditampilkan film yang awalnya berada di bawah bendera Paramount Pictures ini.

Ya, tidak bisa dipungkiri Pyscho jelas adalah salah satu karya terbaik yang pernah dibuat oleh Alfred Hitchcock. Sebuah psychological thriller hebat yang tidak hanya menawarkan ketegangan dan kengerian semata namun juga cerita yang menarik dan pintar serta penuh kejutan didalamnya. Inilah mahakarya dari sutradara legendaris Alfred Hitchcock, The Master of Suspense.

Sinopsis Film Pan's Labyrinth (2006)



Genre : Film Fantasi

Asal :  Meksiko 

Bahasa : Spanyol 

Sutradara : Guillermo del Toro. 

Produksi : Esperanto Films

Pemain :
Ivana Baquero sebagai Ofelia
Sergi Lopez sebagai Kapten Vidal
Maribel Verdu sebagai Mercedes
Ariadna Gil sebagai Carmen
Doug Jones
Federico Luppi


Film terbaik 2006 versi National Society of Film Critics. 

Pada tahun 2007 memenangkan tiga piala Oscar untuk kategori Best Cinematography, Make Up, dan Art Direction, juga menjadi salah satu nominasi untuk Best Foreign Film.





Film ini dibuka dengan sebuah dongeng, dimana: Putri Moanna, yang ayahnya adalah raja dunia bawah tanah, menjadi penasaran tentang dunia manusia. Ketika ia melarikan diri keluar kerajaan, dia akhirnya tak ingat tentang hidupnya di dunianya sebelumnya, dan juga lupa siapa dirinya, dari mana asalnya. Dia menjadi tua dan mati sebagai seorang manusia. Raja percaya bahwa jiwa putrinya akan kembali ke dunianya suatu hari nanti.

Cerita beralih ke pasca Perang Saudara Spanyol pada tahun 1944. Ofelia, seorang gadis muda yang mencintai dongeng, melakukan perjalanan bersama ibunya yang sedang hamil, Carmen, untuk memenuhi panggilan Kapten Vidal, ayah tirinya dan juga ayah dari anak yang dikandung ibunya. Vidal adalah anak seorang komandan terkenal yang meninggal di Maroko yang sangat meyakini fasisme dan ditugaskan untuk membasmi para Gerilyawan (Pemberontak) yang anti-fasis.

Ofelia menemukan seekor serangga besar menyerupai tongkat yang ia percaya adalah Peri. Serangga tersebut mengikutinya ke tempat di mana Vidal ditugaskan di penggilingan dan menuntun Ofelia memasuki Labirin kuno di dekat tempat itu. Sebelum Ofelia dapat masuk, ia dihentikan oleh Mercedes, salah satu pelayan Vidal yang juga mata-mata untuk Pemberontak. Malam itu, Serangga muncul di kamar tidur Ofelia, di mana ia berubah menjadi Peridan membawa Ofelia menuju Labirin di mana ia bertemu dengan Fauno, makhluk setengah manusia setengah kambing, yang percaya bahwa Ofelia adalah Putri Moanna, dan memberikan dia tiga tugas yang harus diselesaikannya sebelum datang bulan purnama, untuk memastikan jati dirinya sebenarnya masih utuh. Sementara itu, Vidal telah membunuh dua petani yang disangka Pemberontak sebelum dapat memeriksanya dengan benar. Setelah memeriksa tas mereka, jelas-jelas bahwa mereka bukan Pemberontak, tapi hanya seorang yang berburu kelinci.

Ofelia memulai melakukan tugas pertamanya yaitu, menaruh tiga batu ajaib ke mulut seekor katak raksasa dan mengambil kunci emas dari dalam perutnya. Dengan begitu pohon ara raksasa yang ada dihutan dekat penggilingan tersebut akan kembali subur, pohon yang sebelumnya menjadi tempat berlindung makhluk-makhluk yang penuh dengan keajaiban dan sihir. Namun ia menjadi khawatir tentang ibunya yang kondisinya semakin memburuk, Fauno memberikan Ofeliasebuah akar mandrake, yang langsung membuat ibunya sembuh dari penyakitnya.

Didampingi oleh tiga Peri pemandu tugasnya, Ofelia kemudian menyelesaikan tugas keduanya yaitu mengambil sebuah belati dari sarang Pale Man, raksasa pemakan yang duduk diam di depan sebuah meja makan. Meskipun Ofelia diperingatkan untuk tidak memakan apapun ditempat itu, namun dia telah makan dua buah anggur yang dapat membangkitkan Pale Man, hingga menyebabkan dia memangsa dua Peri dan mengejar Ofelia, namun dia berhasil melarikan diri. Marah pada ketidaktaatan-nya, Fauno menolak untuk memberikan tugasnya yang ketiga.

Sementara itu, Vidal menjadi semakin kejam, dia telah menyiksa seorang Pemberontak yang ditangkap dan kemudian membunuh dokter yang mencoba membuat seorang tahanan yang disiksa untuk menghentikan rasa sakitnya. Vidal menangkap Ofelia yang sedang duduk didekat akar mandrake, lalu Carmen melemparkan akar tersebut ke dalam perapian, di mana akar mandrake mulai berteriak kesakitan. Seketika itu, Carmen mulai mengalami kontraksi pada perutnya dan meninggal setelah melahirkan anak laki-laki. Vidal menemukan bahwa Mercedesadalah mata-mata, dia menangkapnya saat dia dan Ofelia berusaha untuk melarikan diri. Ofeliakemudian dikunci di kamarnya dan Mercedes disiksa. Namun Marcedes dapat membebaskan dirinya dan melukai Vidal, kemudian dia melarikan diri ke hutan, di mana para Pemberontak menyelamatkannya.

Fauno kembali untuk Ofelia dan memberikan satu lagi kesempatan melakukan tugasnya. Dia mengatakan padanya untuk membawa adiknya ke Labirin. Ofelia kemudian mengambil bayi setelah memberi obat penenang terhadap Vidal. Walaupun kepalanya bingung, Vidal terus mengejar Ofelia yang menuju Labirin, sementara para Pemberontak menyerang penggilingan.Fauno memberitahu Ofelia bahwa portal ke dunia bawah tanah akan terbuka hanya dengan darah orang yang tidak bersalah, sehingga ia membutuhkan setetes darah adiknya. Ofelia menolak untuk menyakiti adiknya dan Fauno kemudian menghilang. Vidal dapat menemukan Ofelia yang kemudian merebut bayi-nya dan menembak Ofelia.

Ketika Vidal meninggalkan Labirin, Pemberontak dan Mercedes sedang menunggunya diluar. Mengetahui bahwa ia akan mati, dia menyerahkan bayi-nya kepada Mercedes, dan dia mengeluarkan arlojinya, siap untuk mati. Vidal mengatakan kepada Mercedes untuk memberitahu anaknya bila ia sudah dewasa, bagaimana ayahnya waktu meninggal. Mercedes menolak, dan mengatakan kepadanya bahwa anaknya tidak akan pernah tahu namanya. Pedro, salah satu Pemberontak dan juga saudara dari Mercedes, menarik senjata dan menembak Vidal di pipi kanannya, dan membunuh dia.

Mercedes memasuki Labirin dan berduka atas Ofelia yang sedang sekarat. Darah Ofeliamenetes ke mezbah dan membawanya ke dunia bawah tanah. Ofelia akhirnya kembali bersama Raja dan Ratu. Dia belajar bahwa dengan memberikan hidupnya untuk menyelamatkan adiknya, ia telah menyelesaikan tugas terakhir dan membuktikan dirinya adalah Putri Moanna.

Sinopsis Film Maze Runner 2 _ The Scorch Trials (2015)

Genre : Action, Sci-Fi, Thriller
Sutradara : Wes Ball
Penulis Naskah : James Dashner (novel), T.S. Nowlin
Pemain Film :
Nathalie Emmanuel (Harriet)
Katherine McNamara (Sonya)
Dylan O'Brien (Thomas)
Thomas Brodie-Sangster (Newt)
Aidan Gillen (Janson)
Kaya Scodelario (Teresa)
Giancarlo Esposito (Jorge)
Ki Hong Lee (Minho)
Patricia Clarkson (Ava Paige)
Lili Taylor (Mary Cooper)
Barry Pepper (Vince)
Rosa Salazar (Brenda)

Durasi Film : 113 Menit
Negara : USA
Film Release :18 September 2015
MPAA Rating : PG-13








Film Hollywood “Maze Runner: The Scorch Trials” merupakan fim yang adaptasi buku di seri kedua James Dashner, film ini menceritaknan kembali setelah mereka berhasil keluar dari Labirin yang di ceritakkan di The Maze Runner (2014), Thomas dan Gladers lainnya dibawa ketempat bernama Scorch, tempat yang lebih mengerikan dimana banyak badai pasir, bola baja muncul tiba tiba dari kegelapan, lalu diserbu Crank yang haus darah.

Mereka dibawa ke sebuah kota, lalu Thomas menyadari bahwa Teressa menghilang. Tak ada satupun orang yang tahu, dimana Teressa berada. Namun ketika Teressa menghilang, Ia digantikan oleh seorang pemuda bernama Aris. Dia mengaku berasal dari Glade grup B. Dia menceritakan bahwa di Glade grup B, semua berisikan perempuan dan dia Cowok satu satunya. Jadi ia memiliki peran seperti Teressa Di Glade grup B.

Thomas yakin bahwa Teressa ada di Glade grup B bertukar dengan Aris. Malam harinya mereka diserang oleh sekumpulan orang kurus kering yang haus kelaparan seperti yang pernah muncul pada akhir film The Maze Runner. Mwreka disebutnya Crank. Crank diakibatkan oleh Flare yang terjadi di bumi. Sebelumnya ada tokoh baru yaitu Brenda, manusia setengah Crank yang menyukai Thomas.

Setelah beberapa hari, ada seorang Ilmuwan dari WICKED, menyuruh mereka pergi ke sebuah padang pasir bernama Scorch, dia mengatakan bahwa itu jalan menuju tempat yang aman. Dalam perjalanan banyak rintangan menghadang, beberapa terbunuh, mereka mendapatkan juga sekutu dan begitu juga musuh yang bermunculan. Serangan Crank tak henti hentinya.Mereka juga memiliki tugas untuk mencari penawar virus flare, jadi mereka sengaja dipaparkan oleh flare. Dan ini yang membuat kita sedih, bahwa Newt tidak kebal terhadap Flare.

Semua terungkap ketika bertemu Teressa, ia ternyata kekasih dari Aris, mereka sudah bertemu sebelum the maze runner diadakan. Teressa dan Aris berciuman di depan Thomas. Lalu Glade grup B memiliki tugas untuk membunuh Thomas. Film ini masih akan berlanjut dan akan tayang lagi tahun 2017 yang berjudul The Maze Runner: The Death Cure