Saturday, October 1, 2016

Sinopsis Film Maigret Sets A Trap (2016)





Bagi mereka yang sudah pernah membaca kisah-kisah detektif Jules Maigret atau bahkan pernah menonton versi adaptasi sebelumnya tentunya akan sangat senang dengan kehadiran serial televisi terbarunya yang dibintangi oleh Rowan Atkinson tersebut. Setelah dirilis beberapa waktu lalu, kisah “Maigret Sets a Trap” yang diangkat dari novel berjudul serupa, para penggemar detektif asal Perancis rekaan George Simenon tersebut.

“Maigret Sets a Trap” diangkat dari novel pendek karya Georges Simenon dengan judul asli “Maigret tend un piège” dan dirilis pada 1955 silam. Novel ini berungkali diadaptasi oleh serial televisi. Yang terakhir adalah serial yang diperankan oleh Michael Gambon pada 1992 silam serta serial televisi Perancis dengan aktor Bruno Cremer yang dirilis antara 1995 sampai 2005. Kali ini, Rowan Atkinson mencoba memberikan warna baru dari kisah yang menjadi cerita Maigret terfavorit pilihan para pecinta genre fiksi detektif tersebut.


Plot

Eksposisinya dimulai dengan kehebohan pemberitaan mengenai pembunuhan berantai di kawasan Montmartre, sisi utara kota Paris, Perancis. Pembunuh berantai tersebut mengincar para wanita dari berbagai kalangan profesi. Tidak sampai disitu, pemberitaan media juga terkesan mengkritik kinerja kepolisian dibawah pimpinan Maigret yang dianggap lamban karena sudah jatuh korban keempat. Belum lagi desakan dari para petinggi kota yang menginginkan sang pelaku tertangkap.

Di tengah mencoba memahami kasus tersebut, kota kembali digemparkan dengan jatuhnya korban kelima, seorang ibu rumah tangga. Maigret pun mengunjungi keluarga korban untuk memberitahukan perihal targedi tersebut. Hatinya pun tersentuh melihat korban meninggalkan suami dan empat anak yang masih kecil.

Dengan jatuhnya korban kelima, Maigret pun kembali didesak. Walaupun sebenarnya ia sudah mempelajari sang pelaku. Ia menyadari bahwa ada kesamaan dari semua korban yang diincar sang pelaku. Semua wanita yang diincarnya adalah wanita usia menjelang 30 sampai akhir 40 dengan rambut berwarna gelap kecoklatan. Selain itu, Maigret juga menyadari bahwa seorang pembunuh berantai rata-rata memiliki “pride” yang tinggi. Hal itulah yang akhirnya dimanfaatkan Maigret untuk memancing sang pelaku dengan memanfaatkan pemberitaan media.

Rencananya memang tak mulus, apalagi ditentang oleh para petinggi kota. Bahkan Maigret sempat diusulkan untuk digantikan oleh Inspektur polisi lain dan mengambil poisisnya dalam menangani kasus ini. Namun berkat sobekan jas yang sempat tertinggal dari salah satu tempat kejadian, pelakunya pun berhasil dilacak.
Masalah belum sampai disitu, karena Maigret tidak mempunyai bukti yang cukup kuat untuk bisa membongkar alibi sang pelaku. Ditambah terjadi pembunuhan berikutnya di saat sang tersangka yang diduga pelaku sedang dalam pengamanan polisi. Semua semakin runyam. Namun hanya Maigret yang bisa membereskan semuanya dengan cara yang tenang dan sangat emosional.


Review

Saya sangat bersyukur bisa menyaksikan ‘Maigret Sets a Trap’ versi sebelumnya yang diperankan oleh Michael Gambon, sehingga saya bisa sedikit melihat perkembangan cerita dari versi terbaru ini. Pada dasarnya semuanya masih terlihat sama, namun lebih banyak dimensi dalam versi Rowan Atkinson. Saya sangat terbawa sekali dengan alur ceritanya di versi terbaru ini. Sehingga saya tidak perlu lagi membahas tentang alur dari cerita dengan ending yang cukup emosional tersebut. Karena yang akan paling banyak saya sorot adalah karakter utama dalam cerita ini.

Saya sangat setuju dengan review dari dailymail.co.uk yang mengatakan bahwa Maigret memiliki metode yang berbeda dengan beberapa detektif kenamaan di dunia fiksi. Bila yang biasa membaca kisah Sherlock Holmes mungkin sangat terbiasa dengan metode bagaimana ia menggunakan kejeniusannya dalam mengupas semua petunjuk yang tersisa, atau Hercule Poirot yang merunut semua detail persoalan sampai akar-akarnya. Hal itu sangat berbeda halnya dengan cara Jules Maigret yang terlatih secara emosional dengan metode mengupas apa yang ada di otak sang pelaku serta membuat jebakan emosi untuk mengeluarkan sisi manusia yang selama ini tidak ditunjukkan di tengah masyarakat.

Lihat saja bagaimana ia memanfaatkan sisi “pride’ dari seorang pembunuh. Seperti yang ia pelajari dari rekannya yang seorang psikiater, bahwa seorang pembunuh berseri biasanya memiliki kebangaan atas “hasil karyanya.” Nah, hal itulah yang dimanfaatkan oleh Maigret. Seperti yang ia katakan, bagaimana bila ada orang lain yang justru mendapat kredit atas pembunuhan tersebut dan bukannya sang pelaku sesungguhnya.

Maka rencana pertama pun dijalankan. Ia mengatur ada seorang yang berpura-pura digiring ke kantor polisi sambil melewati kerumunan wartawan. Hal itulah membuat media menulis berita bahwa pembunuh berseri tersebut telah ditangkap. Pemberitaan dari media itulah yang nantinya akan membuat pembunuh asli keluar dari persembunyian. Disinilah Maigret menyiapkan rencana kedua dengan menempatkan beberapa polisi wanita sebagai umpannya.

Hal lain yang kuat dari Maigret adalah kesabarannya, khususnya saat menginterogasi korban. Sepanjang saya menonton cerita polisi yang mengandung interogasi, baru kali ini saya menemui model interogasi macam Maigret. Tidak ada “good cop, bad cop’ dalam ceritanya. Yang dilakukan Maigret saat duduk  bersama tersangka saat melakukan interogasi adalah diam. Menutup rapat bibirnya sepanjang yang ia perlukan. Hal ini tentunya membuat gelisah orang yang dinterogasi. Di saat sang tersangka sudah mulai terlihat gelisah, Maigret pun baru mulai melontarkan pelurunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang justru bukan pertanyaan resmi seorang penyidik kepada orang yang diperiksanya. Pertanyaannya terlihat biasa namun menjurus ke sesuatu, seperti tentang hungan sang pelaku dengan keluarganya yang kemudian berubah menjadi sesuatu yang cukup menusuk bagi pelaku..

Melihat hal ini, saya menyimpulkan bahwa apa yang pernah saya dengar tentang kesabaran sang Maigret pun terbukti adanya. Lupakan sifat Sherlock Holmes yang moody dan suka show off akan deduksinya kepada sobatnya. Lupakan pula tingkah jenaka Hercule Poirot, metode keteraturannya dan keangkuhannya. Inspektur Jules Maigret adalah tipikal polisi yang sedikit bicara lebih banyak bertindak, diam-diam menghanyutkan, sabar, serta tidak menunjukkan emosi yang meluap-luap, tapi tetap memiliki jiwa kepimpinan sehingga disegani. Sifat yang menurut beberapa orang harusnya diikuti oleh polisi lainnya.

Sinopsis Film The Boy Next Door (2015)







Genre : Thiller
Sutradara : Rob Cohen
Produksi : Universal Pictures
Produser : Jennifer LoPez
Pemain Film :
Jennifer Lopez
Ryan Guzman
John Corbett
Kristih Chenoweth
Ian Nelson
Negara : Amerika
Film Release : Februari 2015
Durasi : 91 Menit


Sepertinya tak ada yang mampu menolak godaan seorang laki-laki muda, tampan, tubuh menawan, serta pandai memperbaiki apapun, termasuk hati seorang istri yang rapuh mendapati suaminya berselingkuh. Guru Sastra Inggris klasik,Claire Petterson tidak berkutik saat Noah, cucu tetangga muncul memberikan bantuan untuk mendorong rolling door garasinya yang rusak.

Pesona Noah menarik membuat Claire tak berdaya. Beberapa kali Claire kedapatan tengah memandang kagum kepada wajah dan otot-otot tubuh Noah. Rupanya Noah pun sama kagumnya terhadap Claire. Bahkan Noah cenderung terobsesi dengan Claire. Segalanya ia lakukan untuk bisa mendapatkan Claire. Pertahanan Claire yang sudah sembilan bulan pisah rumah dengan sang suami, akhirnya runtuh.

Buaian Noah tak berpengaruh lama. Claire segera menyadari bahwa yang ia lakukan bersama Noah salah. Di sisi lain hubungan Claire dengan Garret, sang suami mulai membaik. Claire akhirnta lebih memilih Garret yang mapan, yang mengendarai mobil mewah Dodge, daripada Noah muda yang hanya bermodalkan wajah tampan dan bentuk tubuh yang sempurna.

Penolakan Claire ditanggapi dengan amarah oleh Noah. Dia tidak terima dan menuduh Claire menjaga jarak dengan dirinya. Di sinilah mulai terungkap sosok Noah yang sebenarnya. Ia tidak lebih dari seorang psikopat, yang rela melakukan apapun untuk mendapatkan Claire.

Ancaman demi ancaman dilayangkan kepada Claire. Mulai dari tulisan “Saya meniduri Claire Peterson” di dinding kamar mandi, hingga menyebarkan foto-foto Claire saat berhubungan dengan Noah. Noah bahkan nekat membunuh siapapun yang menghalangi jalannya untuk bisa bersama dengan Claire.

Kisah di atas merupakan cerita di film The Boy Next Door. Film ini dibintangi oleh penyanyi, Jennifer Lopez dan Ryan Guzman. Lopez berperan sebagai Claire, sementara Guzman dipercaya untuk memainkan Noah, si psikopat ganteng.

Sinopsis Film The Best Offer (2013)







Sutradara : Giuseppe Tornatore
Penulis Naskah : Giuseppe Tornatore
Aktor dan Aktris : Geoffrey Rush, Jim Sturgess, Sylvia Hoeks

Film ini bercerita tentang kehidupan seorang pelelang yang selalu curang ketika melakukan pelelangan, Ia mendapatkan job dari seseorang yang ingin menggunakan jasanya untuk menjual barang-barang antik warisan keluarga. Ketika menyelesaikan daftar barang pelanggannya, dia menemukan hal-hal aneh, sesuatu yang membangunkan semangat hidupnya kembali dan membawa cara berpikir yang berbeda, serta membawa perubahan besar bagi dirinya.


Film ini menceritakan seorang pemandu lelang bernama Virgil Oldman, yang hidup sendiri dan maniak akan kebersihan, namun memainkan sebuah konspirasi untuk menguasai barang-barang tertentu yang ia sukai dengan cara memanipulasi proses pelelangan. Awalnya, semua berjalan lancar sampai menjelang akhir masa kerjanya, hingga ia menerima permintaan pelelangan dari seorang perempuan yang memiliki kepribadian aneh, yang akhirnya merubah hidupnya.

Film yang menitik beratkan pada plot yang lumayan emosional dan twist ending yang mencengangkan. Saya akui alur ceritanya tidak membosankan, membuat kita menduga-duga siapa sebenarnya pemilik dari semua barang pelelangan yang terakhir itu, dan apa tujuannya. Cerita berjalan apik, hingga terkesan tidak meninggalkan satu hole plot sekali pun, namun sedikit kekurangannya justru saya rasakan di akhir film yang agak sedikit memaksa, dan banyak sekali celah.

Sinopsis Film I. T. (2016)

Film dengan genre crime, drama, mystery oleh sutradara John Moore, penulis skenario Daniel Kay dan William Wisher Jr., diproduksi oleh Fastnet Films, 22h22, Friendly Films (II), mengambil lokasi syuting dibeberapa daerah di Irlandia dan Prancis. 

Film ini dibintangi oleh Pierce Brosnan selaku pemain utama beserta Anna Friel, Stefanie Scott, James Frecheville dan lainnya. RLJ telah membelinya untuk distribusi di beberapa negara yang dijadwalkan akan tayang bulan September mendatang.

Film ini akan berfokus pada seorang pria bernama Mike Ryan (Brosnan) bersama istrinya yang cantik, seorang anak perempuannya yang tak kalah cantik, dan sebuah rumah berkarya seni dan berteknologi tinggi. Sebuah keluarga yang sempurna dengan kekayaan yang juga luar biasa -- namun suatu ketika dia menemukan dirinya sedang terjebak dalam sebuah permainan mematikan, sebuah game seperti kucing dan tikus ketika konsultan teknologi yang dipekerjakannya (diperankan oleh James Frecheville) mulai menggunakan kemampuan teknologi yang dimilikinya untuk mengintai anak perempuan Ryan, membahayakan istrinya, membahayakan bisnisnya bahkan hidupnya.

Film Summary

John Moore
September 22, 2016
- Minutes
Crime,
Drama,
Mystery
n/a
Daniel Kay,
William Wishes Jr.
Fastnet Films,
22h22,
Friendly Films (II)
Anna Friel,
Pierce Brosnan,
Stefanie Scott,
Michael Nyqvist,
James Frecheville,
Jason Barry
-
I.T.
LANGUAGE
English
BUDGET
€ 11.250.379
COUNTRY
Ireland,
France
FILM LOCATION
Dublin,
Ireland