Friday, September 30, 2016

Sinopsis Film Incendies (2010)






Sutradara : Denis Villeneuve 
Produser : Luc Dery, Kim McCraw  
Pemeran : Lubna Azabal, Melissa Desormeaux Poulin, Maxim Gaudette, Remy Girard, Allen Altman 
Musik: Gregoire Hetzel 
Sinematografi : Andre Turpin   
Penyunting : Monique Dartonne  
Studio :  Micro Scope  
Distributor : E1 Entertainment, Sony Pictures Classics 
Tanggal Rilis : 04 September 2010 
 Durasi : 130 menit 
Negara : Kanada  
Bahasa : Perancis

Saya selalu menyukai film yang menggunakan setting nyata dari sebuah peristiwa bersejarah, karena dari situ saya mendapat nilai tambah untuk mempelajarinya lebih lanjut. Film Kanada-Perancis garapan sutradara Denis Villeneuve ini sedikit mengingatkan saya pada film Argentina, The Secret in Their Eyes (2009). Bukan karena alur ceritanya memang, melainkan karena keduanya sama-sama menggunakan setting sebuah konflik/krisis yang terjadi di suatu daerah dan keduanya pun juga mengedepankan aspek misteri yang kuat. Incendies diangkat dari teatrikal drama karya Wajdi Mouawad pada tahun 2003, dan pada tahun 2011 berhasil masuk nominasi di Academy Awards untuk Film Berbahasa Asing Terbaik.   


Nawal Marwan (Lubna Azabal) melalui notarisnya, Jean Lebel (Réemy Girard) menyampaikan permintaan terakhirnya pada anak kembarnya, Jeanne (Mélisa Désormeaus-Poulin) dan Simon (Maxim Gaudette) agar menemukan ayah dan saudaranya yang lain di negara tempat kelahirannya. Awalnya, Jeanne dan Simon meyakini bahwa ia tidak punya saudara lagi dan yang ia tahu bahwa ayahnya juga sudah meninggal selama perang di kota Daresh. Karena Simon enggan, akhirnya Jeanne memutuskan sendiri datang ke negara di daerah Timur Tengah tempat lahir ibunya, untuk mencari lokasi tempat ayahnya berada. Sedangkan Simon mendapatkan bagian untuk mencari keberadaan saudara mereka. Chapter pertama ini diberi judul Les Jumeaux atau yang berarti Si Kembar.
Chapter kedua berjudul “Nawal”, menceritakan masa lalu Nawal saat memiliki hubungan terlarang dengan pemuda muslim bernama Wahab (Hamed Najem). Namun naas, Wahab yang seorang pengungsi itu akhirnya tewas dibunuh oleh saudara Nawal. Nawal yang dianggap membawa kesialan pada keluarga, akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki dengan dibantu oleh neneknya. Bayi laki-laki itu kemudian dititipkan pada panti asuhan di Kfar Kout. Nawal lalu pindah ke kota bernama Daresh untuk melanjutkan studi Bahasa Perancis. Ia juga aktif dalam menentang partai Nasionalis di saat perang sipil antara kubu Muslim dan Kristen pecah. Setelah bertahun-tahun berlalu, Nawal kembali untuk menjemput anaknya. Tapi apa yang terjadi, panti asuhan tempat anaknya berada telah dihancurkan oleh kaum milisi.
Adegan pertama diawali dengan seorang anak laki-laki yang dicukur rambutnya, menatap dengan matanya yang seolah menyalakan api penuh dendam dan kebencian yang mendalam. Anak inilah yang akan menjadi kunci dari misteri yang tersebar dalam film ini. Sejak Jeanne mempertanyakan mengenai kenyataan terkait ayah dan saudaranya yang berlawanan dengan permintaan terakhir ibunya, saya sudah merasa bahwa ada unsur misteri yang siap untuk diikuti selama film berlangsung. Misteri berupa teka-teki keberadaan sekaligus kenyataan mengenai ayah si kembar itu, mengantarkan Jeanne ke sebuah negara ‘antah berantah’ di Timur Tengah, karena sama sekali negara tersebut tidak pernah dijelaskan namanya di sepanjang film. Dengan bersumber referensi yang saya cari, banyak yang mengaitkan negara yang menjadi setting dari Incendies ini adalah Lebanon. Di negara tersebut, memang pernah pecah perang sipil antara kubu Muslim dengan Kristen antara tahun 1975-1990. Semua nama kota yang digunakan dalam film inipun juga murni fiksi.   
Selain dibalut dengan unsur misteri yang menjadikan daya tariknya, Incendies juga kaya dengan karakternya yang kuat. Jeanne dan Simon, si kembar laki-laki dan perempuan ini memiliki watak yang cukup berseberangan. Jeanne terlihat lebih dewasa dan tenang dalam menangani setiap masalah. Sedangkan Simon lebih mudah naik darah dan selalu pesimis dalam masalah yang dihadapi. Masa lalu mereka berdua memang tidak dijelaskan secara rinci, tapi saya berasumsi bahwa mereka awalnya tidaklah dekat satu sama lain. Tapi, dengan wasiat berupa ‘petualangan’ pencarian dari ibunya ini, mereka mulai nampak akrab dan menunjukkan perasaan saling membutuhkan satu sama lain. Dari jajaran cast, saya menyukai pemilihan Mélisa Désormeaus-Poulin dan Maxim Gaudette yang keduanya memiliki kemiripan wajah untuk berperan sebagai saudara kembar.
Karakter Nawal sendiri digambarkan sebagai seorang wanita yang kuat, tegar, dan berpendirian ‘kokoh’. Dengan beraninya, ia membunuh pimpinan Partai Nasionalis yang radikal meski mereka memiliki kesamaan agama, karena apa yang diinginkan oleh Nawal tidak lain adalah perdamaian bagi kedua belah pihak, antara Muslim dengan Kristen. Tapi sering pula Nawal dimunculkan dalam keadaan diam dan tertegun cukup lama setiap ia tertimpa sebuah hal yang membuatnya begitu sedih dan terluka. Salah satunya adalah ketika adegan bus yang berisi warga Muslim yang ditembali milisi Kristen, dan Nawal tidak berhasil menyelamatkan seorang gadis kecil (adegan ini merupakan adegan paling menyayat hati dan membuat saya speechless). Segala pahit getir rasanya tidak pernah lepas dari hidupnya, dan itulah yang mengasahnya menjadi pribadi yang tangguh. Karakter Nawal Marwan ini berhasil mengambil hati saya dan benar-benar membuat terkesan.
Apa yang membuat saya begitu menyukai Incendies selain kehadiran misterinya yang seru untuk diikuti adalah penggunaan setting berupa konflik nyata dalam sejarah. Dalam hal ini adalah perang sipil akibat gesekan agama yang berbeda, meskipun tidak ditampilkan secara eksplisit. Adegan chaostic juga berhasil dibangun dengan cukup baik seperti pengungsi yang berlarian ke sana kemari dan tank-tank yang siap menyerbu, semakin menambah suasana yang mencekam di tengah-tengah peperangan. Cerita semakin seru dan mendebarkan ketika proses pencarian tersebut sempat melibatkan salah satu pemimpin milisi tertinggi. Tapi justru dari sanalah jawaban akan segala misteri mengenai ayah dan saudara si kembar berhasil didapatkan. Incendies ditutup dengan twist ending yang membuat breathtaking dan cukup membuat pikiran blowing. Denis Villeneuve telah berhasil menghadirkan sebuah sajian luar biasa dengan tone yang lambat di awal tapi meledak di akhir. Incendies berasal dari Bahasa Perancis yang memiliki arti “api”, api yang berkobar selama perang sipil, api kemarahan Nawal pada kaum Nasionalis, serta api yang membakar emosi penonton ketika menyaksikannya.      



 

Saturday, September 10, 2016

Sinopsis Film Identity (2003)


Ceritanya dimulai dari suatu rumah sakit jiwa yang mengadakan pengadilan dalam kondisi khusus buat pembunuh psycho yang mengidap multiple personality atau kepribadian ganda bernama Malcolm Rivers (Pruitt Taylor Vince). Setelah itu, cerita beralih ke sebuah motel di deket Las Vegas dimana satu keluarga terjebak dalam badai dan harus stay di motel itu. Keluarga yang terdiri dari ayah bernama George York, ibu yang bernama Alice York dan anak laki – laki bernama Timmy itu mengalami kecelakaan kecil yang menyebabkan Alice terluka parah. Di karenakan ditabrak oleh sopir limusin.


kemudian mereka ditolong dan di bawa oleh seorang sopir limusin, Edward (John Cusack) yang sedang mengantar seorang aktris, Caroline. Dan mereka sampai di sebuah motel yang tidak jauh dari tempat kejadian tersebut. Larry, si pemilik hotel kemudian menyarankan agar Alice dibawa ke rumah sakit terdekat yang jaraknya sekitar 30 mil dari motel. Akhirnya si sopir limusin yang bernama Edward, pergi ke RS tersebut. Sayangnya di tengah jalan ia terjebak banjir lalu kemudian bertemu dengan seorang PSK bernama Paris (Amanda Peet) yang ingin berhenti dari pekerjaannya dan ia berniat untuk membuka perkebunan jeruk dan di tengah perjalanan edward dan paris bertemu pasangan bernama Ginny Isiana (Clea DuVall) dan Lou Isiana (William Lee Scott) di dalam mobil yang juga terjebak banjir. Edward dan paris kemudian menumpang bersama mereka untuk kembali ke motel.


Kemudian disusul seorang polisi bernama Rhodes (Ray Liotta) bersama napi pindahan yang kehabisan bensin. Mereka semua pun kemudian menginap di hotel tersebut. Tak lama kemudian, terjadi pembunuhan di hotel tersebut. Pertama si aktris yang kepalanya ditemukan di mesin cuci motel, disusul Lou, suami Ginny. Awalnya dicurigai si pembunuh adalah napi yang dibawa oleh Rhodes. Tapi kemudian ternyata si napi juga dibunuh dengan tongkat bisbol.


Anehnya di setiap penemuan mayat ditemukan kunci kamar motel dengan urutan nomor 10 untuk si aktris, 9 untuk Lou dan 8 untuk si napi. Tak disangka, ditemukan mayat dalam lemari pendingin yang ternyata pemilik motel sebelumnya. Beberapa waktu yang lalu, Larry menemukan si pria sudah mati ketika datang ke motel, namun ia bingung harus melakukan apa sehingga mayatnya disimpan dalam lemari pendingin agar menunggu keluarganya datang tetapi tak pernah ada yang datang melainkan tamu – tamu yang bermaksud menyewa kamar. Jadilah Larry mengambil alih motel tersebut.
Sayangnya tak ada yang percaya dengan cerita Larry sehingga ia dituduh sebagai pembunuh orang – orang tersebut. Larry yang panik kemudian kabur dengan mobil, namun tidak sampai ia keluar dari motel, ia menabrak George dan di dalam kantong George di temukan kunci bernomor 7. Larry akhirnya diamankan dan kemudian Alice yang terluka parah meninggal dan di temukan nomor 6. Ginny yang kemudian mengambil peran sebagai pelindung bagi Timmy kemudian kabur membawa Timmy. Namun mobil yang mereka tumpangi meledak sebelum keluar dari motel. Setelah api di padamkan di temukan nomor 5.


Akhirnya orang – orang yang tersisa hanya tinggal Edward, Rhodes, Paris, dan Larry. Mereka menerka – nerka latar belakang dari pembunuhan ini. Ternyata ulang tahun mereka dan orang – orang yang dibunuh bertanggal sama, yaitu 10 Mei dan mereka memiliki nama depan atau nama belakang yang mirip nama Negara bagian seperti Edward 'Ed' Dakota - Samuel Rhodes - Paris Nevada - George York - Alice York - Timmy York - Larry Washington - Caroline Suzanne - Virginia "Ginny" Isiana - Lou Isiana - Robert Maine. Kecurigaan mulai timbul satu sama lain yang menyebabkan Larry terbunuh.


Tiba tiba scene berganti kembali ke pengadilan Malcolm Rivers, ternyata dalam diri Malcolm terdapat lebih dari 10 karakter berbeda yang ia karang sendiri dan saling membunuh dalam cerita di motel tersebut. Dokter yang menanganinya percaya bahwa tokoh Rhodes lah yang merupakan karakter pembunuh. Dengan kata lain, seluruh kejadian di motel merupakan rekayasa pikiran Malcolm Rivers yang diperintahkan untuk menghilangkan kepribadian pembunuh dalam dirinya. Dalam jalannya sidang seperti melihat seluruh kepribadian Malcolm yang saling membunuh, hal ini untuk membuktikan bahwa sebenarnya raga Malcolm tidak bersalah, tetapi pikiran – pikirannyalah yang berbahaya.


Cerita lalu kembali pada kejadian di motel, Larry dibunuh oleh Rhodes. Kemudian Edward dan Rhodes saling menembak hingga keduanya tewas. Hingga tersisa Paris yang akhirnya melanjutkan hidup membuka kebun jeruk atau sama saja seperti karakter Paris lah yang akhirnya dipertahankan Malcolm. Ternyata karakter pembunuh sebenarnya adalah Timothy atau Timmy anak dari George dan Caroline. Dialah yang membunuh orang – orang atau kepribadian – kepribadian Malcolm. Di akhir cerita, Paris yang sedang menggali tanah tiba – tiba menemukan kunci motel bernomor 1, kemudian tiba – tiba datang Timmy lalu membunuhnya sebagai wujud dari Malcolm yang mempertahankan karakter Timmy dalam dirinya.