Sutradara : Denis Villeneuve
Produser : Luc Dery, Kim McCraw
Pemeran : Lubna Azabal, Melissa Desormeaux Poulin, Maxim Gaudette, Remy Girard, Allen Altman
Musik: Gregoire Hetzel
Sinematografi : Andre Turpin
Penyunting : Monique Dartonne
Studio : Micro Scope
Distributor : E1 Entertainment, Sony Pictures Classics
Tanggal Rilis : 04 September 2010
Durasi : 130 menit
Negara : Kanada
Bahasa : Perancis
Saya selalu menyukai film yang menggunakan setting nyata dari sebuah peristiwa bersejarah, karena dari situ saya mendapat nilai tambah untuk mempelajarinya lebih lanjut. Film Kanada-Perancis garapan sutradara Denis Villeneuve ini sedikit mengingatkan saya pada film Argentina, The Secret in Their Eyes (2009). Bukan karena alur ceritanya memang, melainkan karena keduanya sama-sama menggunakan setting sebuah konflik/krisis yang terjadi di suatu daerah dan keduanya pun juga mengedepankan aspek misteri yang kuat. Incendies diangkat dari teatrikal drama karya Wajdi Mouawad pada tahun 2003, dan pada tahun 2011 berhasil masuk nominasi di Academy Awards untuk Film Berbahasa Asing Terbaik.
Saya selalu menyukai film yang menggunakan setting nyata dari sebuah peristiwa bersejarah, karena dari situ saya mendapat nilai tambah untuk mempelajarinya lebih lanjut. Film Kanada-Perancis garapan sutradara Denis Villeneuve ini sedikit mengingatkan saya pada film Argentina, The Secret in Their Eyes (2009). Bukan karena alur ceritanya memang, melainkan karena keduanya sama-sama menggunakan setting sebuah konflik/krisis yang terjadi di suatu daerah dan keduanya pun juga mengedepankan aspek misteri yang kuat. Incendies diangkat dari teatrikal drama karya Wajdi Mouawad pada tahun 2003, dan pada tahun 2011 berhasil masuk nominasi di Academy Awards untuk Film Berbahasa Asing Terbaik.

Nawal
Marwan (Lubna Azabal) melalui notarisnya, Jean Lebel (Réemy Girard) menyampaikan
permintaan terakhirnya pada anak kembarnya, Jeanne (Mélisa Désormeaus-Poulin) dan Simon
(Maxim Gaudette) agar menemukan ayah dan saudaranya yang lain di negara tempat
kelahirannya. Awalnya, Jeanne dan Simon meyakini bahwa ia tidak punya saudara
lagi dan yang ia tahu bahwa ayahnya juga sudah meninggal selama perang di kota
Daresh. Karena Simon enggan, akhirnya Jeanne memutuskan sendiri datang ke
negara di daerah Timur Tengah tempat lahir ibunya, untuk mencari lokasi tempat
ayahnya berada. Sedangkan Simon mendapatkan bagian untuk mencari keberadaan
saudara mereka. Chapter pertama ini
diberi judul Les Jumeaux atau yang
berarti Si Kembar.
Chapter kedua berjudul “Nawal”,
menceritakan masa lalu Nawal saat memiliki hubungan terlarang dengan pemuda
muslim bernama Wahab (Hamed Najem). Namun naas, Wahab yang seorang pengungsi
itu akhirnya tewas dibunuh oleh saudara Nawal. Nawal yang dianggap membawa
kesialan pada keluarga, akhirnya melahirkan seorang bayi laki-laki dengan
dibantu oleh neneknya. Bayi laki-laki itu kemudian dititipkan pada panti asuhan
di Kfar Kout. Nawal lalu pindah ke kota bernama Daresh untuk melanjutkan studi Bahasa
Perancis. Ia juga aktif dalam menentang partai Nasionalis di saat perang sipil
antara kubu Muslim dan Kristen pecah. Setelah bertahun-tahun berlalu, Nawal
kembali untuk menjemput anaknya. Tapi apa yang terjadi, panti asuhan tempat
anaknya berada telah dihancurkan oleh kaum milisi.

Adegan
pertama diawali dengan seorang anak laki-laki yang dicukur rambutnya, menatap
dengan matanya yang seolah menyalakan api penuh dendam dan kebencian yang
mendalam. Anak inilah yang akan menjadi kunci dari misteri yang tersebar dalam
film ini. Sejak Jeanne mempertanyakan mengenai kenyataan terkait ayah dan
saudaranya yang berlawanan dengan permintaan terakhir ibunya, saya sudah merasa
bahwa ada unsur misteri yang siap untuk diikuti selama film berlangsung. Misteri
berupa teka-teki keberadaan sekaligus kenyataan mengenai ayah si kembar itu,
mengantarkan Jeanne ke sebuah negara ‘antah berantah’ di Timur Tengah, karena
sama sekali negara tersebut tidak pernah dijelaskan namanya di sepanjang film. Dengan
bersumber referensi yang saya cari, banyak yang mengaitkan negara yang menjadi
setting dari Incendies ini adalah Lebanon. Di negara tersebut, memang pernah
pecah perang sipil antara kubu Muslim dengan Kristen antara tahun 1975-1990. Semua
nama kota yang digunakan dalam film inipun juga murni fiksi.
Selain
dibalut dengan unsur misteri yang menjadikan daya tariknya, Incendies juga kaya
dengan karakternya yang kuat. Jeanne dan Simon, si kembar laki-laki dan
perempuan ini memiliki watak yang cukup berseberangan. Jeanne terlihat lebih
dewasa dan tenang dalam menangani setiap masalah. Sedangkan Simon lebih mudah
naik darah dan selalu pesimis dalam masalah yang dihadapi. Masa lalu mereka
berdua memang tidak dijelaskan secara rinci, tapi saya berasumsi bahwa mereka awalnya
tidaklah dekat satu sama lain. Tapi, dengan wasiat berupa ‘petualangan’ pencarian
dari ibunya ini, mereka mulai nampak akrab dan menunjukkan perasaan saling
membutuhkan satu sama lain. Dari jajaran cast,
saya menyukai pemilihan Mélisa Désormeaus-Poulin dan Maxim Gaudette
yang keduanya memiliki kemiripan wajah untuk berperan sebagai saudara kembar.
Karakter
Nawal sendiri digambarkan sebagai seorang wanita yang kuat, tegar, dan
berpendirian ‘kokoh’. Dengan beraninya, ia membunuh pimpinan Partai Nasionalis yang
radikal meski mereka memiliki kesamaan agama, karena apa yang diinginkan oleh
Nawal tidak lain adalah perdamaian bagi kedua belah pihak, antara Muslim dengan
Kristen. Tapi sering pula Nawal dimunculkan dalam keadaan diam dan tertegun
cukup lama setiap ia tertimpa sebuah hal yang membuatnya begitu sedih dan
terluka. Salah satunya adalah ketika adegan bus yang berisi warga Muslim yang
ditembali milisi Kristen, dan Nawal tidak berhasil menyelamatkan seorang gadis
kecil (adegan ini merupakan adegan paling menyayat hati dan membuat saya speechless). Segala pahit getir rasanya
tidak pernah lepas dari hidupnya, dan itulah yang mengasahnya menjadi pribadi
yang tangguh. Karakter Nawal Marwan ini berhasil mengambil hati saya dan
benar-benar membuat terkesan.
Apa yang
membuat saya begitu menyukai Incendies selain kehadiran misterinya yang seru
untuk diikuti adalah penggunaan setting berupa konflik nyata dalam sejarah.
Dalam hal ini adalah perang sipil akibat gesekan agama yang berbeda, meskipun
tidak ditampilkan secara eksplisit. Adegan chaostic
juga berhasil dibangun dengan cukup baik seperti pengungsi yang berlarian ke
sana kemari dan tank-tank yang siap menyerbu, semakin menambah suasana yang mencekam
di tengah-tengah peperangan. Cerita semakin seru dan mendebarkan ketika proses
pencarian tersebut sempat melibatkan salah satu pemimpin milisi tertinggi. Tapi
justru dari sanalah jawaban akan segala misteri mengenai ayah dan saudara si
kembar berhasil didapatkan. Incendies ditutup dengan twist ending yang membuat breathtaking
dan cukup membuat pikiran blowing.
Denis Villeneuve telah berhasil menghadirkan sebuah sajian luar biasa dengan tone yang lambat di awal tapi meledak di
akhir. Incendies berasal dari Bahasa Perancis yang memiliki arti “api”, api
yang berkobar selama perang sipil, api kemarahan Nawal pada kaum Nasionalis,
serta api yang membakar emosi penonton ketika menyaksikannya.
No comments:
Post a Comment